Horja, Margondang, dan Gordang Sambilan: Denyut Adat Mandailing yang Masih Dijaga di Panyabungan
Horja, Margondang, dan Gordang Sambilan masih hidup di Panyabungan, ibu kota Mandailing Natal. Simak denyut adat Mandailing yang dijaga warga.
Poin Penting
- Panyabungan adalah kecamatan sekaligus ibu kota Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.
- Kecamatan Panyabungan dikepalai Camat Miswar Husin.
- Horja adalah rangkaian upacara adat besar dalam tradisi Mandailing.
- Margondang adalah praktik menabuh gendang adat, termasuk Gordang Sambilan.
- Gordang Sambilan adalah ensambel sembilan gendang khas Mandailing yang masih ditabuh di pesta adat.
Denyut yang Tak Pernah Putus di Panyabungan
Malam belum terlalu larut ketika bunyi sembilan gendang memecah udara Panyabungan. Warga berdatangan ke halaman rumah keluarga yang menggelar horja. Suara gondang rendah menggelegar, disusul tabuhan tinggi yang saling bersahutan. Di kecamatan yang juga menjadi ibu kota Kabupaten Mandailing Natal ini, momen seperti itu bukan pertunjukan wisata. Ia bagian dari hidup sehari-hari.
Panyabungan, yang saat ini dipimpin Camat Miswar Husin, tetap menjadi salah satu pusat di mana tradisi Mandailing dirawat. Orang menyebut tiga kata yang saling terkait: horja, margondang, dan Gordang Sambilan. Ketiganya bukan sekadar warisan yang disimpan dalam lemari. Ketiganya hadir dalam pesta perkawinan, sunatan, dan upacara adat lain yang masih digelar warga.
Di jalan-jalan sekitar pusat kecamatan, rumah-rumah tua berdiri di antara bangunan baru. Pagi hari, pasar bergeliat seperti biasa. Namun begitu ada hajatan besar, ritme kota kecil ini berubah. Suara gondang bisa terdengar sampai ke ujung gang, mengundang tetangga dan kerabat yang datang membawa ulos.
Horja: Rangkaian Adat yang Menyatukan Banyak Pihak
Horja dalam tradisi Mandailing adalah upacara adat besar. Ia menandai peristiwa penting dalam siklus hidup seseorang atau keluarga, dan pelaksanaannya melibatkan banyak pihak: keluarga inti, kerabat dekat, hingga tetua adat. Tidak semua orang bisa memutuskan kapan horja digelar. Ada musyawarah, ada perhitungan kesepakatan keluarga.
Persiapan horja bisa berlangsung berhari-hari. Kerabat dari luar kota berdatangan. Dapur rumah tidak berhenti mengepul. Daging, beras, dan bahan makanan lain disiapkan untuk menjamu tamu. Di sisi lain, perangkat adat disiapkan: ulos untuk dibagi, ruang untuk duduk bermusyawarah, dan tentu saja panggung tempat gendang akan ditabuh.
Yang menarik, horja tidak melulu soal besar-kecilnya pesta. Ada aturan dan tahapan yang harus dihormati. Salah satu yang paling mencolok adalah kehadiran musik gondang. Tanpa gondang, horja terasa belum lengkap. Bunyi gendang menjadi penanda bahwa acara sudah resmi dimulai dan bahwa adat sedang dijalankan.
Di Panyabungan, horja masih sering terlihat. Bukan setiap minggu, tetapi cukup sering untuk membuat warga akrab dengan bunyinya. Anak-anak yang tumbuh di sini mengenal suara gondang bahkan sebelum mereka tahu istilahnya.
Margondang dan Gordang Sambilan: Sembilan Gendang yang Menjaga Ingatan
Margondang artinya menabuh gondang. Dalam praktiknya, margondang adalah kegiatan bermain musik gondang, biasanya dilakukan oleh sekelompok penabuh yang sudah terlatih. Mereka memainkan pola ritme tertentu yang punya makna dan fungsi berbeda, tergantung acara yang sedang digelar.
Puncak dari tradisi ini adalah Gordang Sambilan. Sesuai namanya, ensambel ini terdiri dari sembilan gendang dengan ukuran berbeda. Gendang terbesar menghasilkan bunyi paling rendah, sedangkan yang terkecil memberi aksen tinggi. Ditambah alat lain seperti gong dan alat pukul pendukung, Gordang Sambilan menciptakan lapisan bunyi yang khas.
Bagi orang Mandailing, Gordang Sambilan bukan sekadar alat musik. Ia punya nilai adat dan sejarah panjang. Di masa lalu, ensambel ini dikaitkan dengan upacara kerajaan dan acara adat besar. Sekarang, ia hidup dalam pesta rakyat, pernikahan, dan acara budaya. Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal dan berbagai komunitas seni di Panyabungan berupaya menjaga keberadaannya, antara lain dengan melibatkan generasi muda dalam latihan.
Tantangannya nyata. Penabuh Gordang Sambilan tidak lahir dalam semalam. Butuh bertahun-tahun berlatih untuk bisa mengikuti pola dan tempo yang benar. Ketika penabuh senior menua, regenerasi menjadi soal serius. Di beberapa sanggar dan kelompok di sekitar Panyabungan, latihan rutin digelar untuk memastikan tidak ada jeda panjang antar generasi.
Bahan dan perawatan gendang juga butuh perhatian. Kulit gendang harus dijaga agar tetap kencang dan tidak lembap. Di iklim Sumatera Utara yang cenderung basah, ini pekerjaan tersendiri. Perajin dan pemilik gendang biasanya punya cara turun-temurun untuk merawat alat musik ini.
Di luar panggung adat, Gordang Sambilan mulai sering tampil dalam festival budaya dan acara penyambutan tamu. Ini memberi ruang lebih luas bagi kesenian ini untuk dikenal, meski tetap ada kekhawatiran bahwa konteks adatnya bisa tergerus jika hanya dianggap pertunjukan.
Cuplikan Video
Tanya Jawab Singkat
Apa itu horja dalam adat Mandailing?
Horja adalah upacara adat besar dalam tradisi Mandailing yang menandai peristiwa penting keluarga, seperti perkawinan atau sunatan, dan melibatkan banyak pihak serta tahapan adat.
Apa perbedaan margondang dan Gordang Sambilan?
Margondang berarti kegiatan menabuh gondang, sedangkan Gordang Sambilan adalah ensambel sembilan gendang khas Mandailing yang digunakan dalam praktik margondang.
Apakah Gordang Sambilan masih ada di Panyabungan?
Ya. Gordang Sambilan masih ditabuh dalam berbagai acara adat dan budaya di Panyabungan, dengan upaya regenerasi penabuh dari generasi muda.
Di mana Panyabungan berada?
Panyabungan adalah kecamatan yang juga menjadi ibu kota Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara, dan saat ini dikepalai Camat Miswar Husin.